Slow loading? Lo-fi version

Sisi Privat Barthes | Benjamin Ivry

Posted March 25, 2009 by c2o library  |  1 Comment

Sisi Privat Barthes

Oleh BENJAMIN IVRY

Hampir tiga dekade semenjak almarhum meninggal tertabrak truk laundry, nama kritikus Prancis Roland Barthes masih mengundang prestise di negara asalnya maupun negara-negara lainnya. Dengan gaya penulisan yang lancar dan mudah dibaca – paling tidak jika dibandingkan teman-teman teoritikus segenerasinya termasuk Jacques Lacan dan Jacques Derrida – karya-karya Barthes juga mendapat keuntungan diterjermahkan oleh Richard Howard, seorang penerjermah yang piawai sekaligus penyair pemenang Pulitzer. Beberapa karya Barthes yang telah diterjermahkan dalam bahasa Inggris oleh Howard termasuk Système de la mode (The Fashion System), L’Empire des signes (Empire of Signs), and Fragments d’un discours amoureux (A Lover’s Discourse: Fragments). Dua judul baru yang menimbulkan sedikit kontroversi telah menyusul diterbitkan di Prancis bulan lalu: Journal de deuil (Bereavement Diary) and Carnets du voyage en Chine (China Travel Notebook).

Journal de deuil, dari penerbit lama Barthes, Éditions du Seuil, berisi catatan-catatan pribadi setelah kematian ibunya di tahun 1977 dalam umur 84 tahun. Meskipun teks-teks tersebut tidak secara drastis mengubah pemahaman kita terhadap Barthes, Journal de deuil memaparkan dokumentasi mengenai kedekatan beliau terhadap ibunya, yang wafatnya – menurut pengakuannya terhadap teman-temannya – memberi pukulan besar tak terpulihkan terhadap Barthes. Carnets du voyage en Chine, yang juga berisi catatan-catatan impromptu dan bukannya tulisan prosa yang dikerjakan dengan hati-hati seperti tulisan-tulisan Barthes pada umumnya, merupakan satu lagi sekilas pandangan intim dalam keseharian Barthes, dalam kebosanan dan kebanalan lainnya.

Tak urung banyak muncul perbandingan antara Journal de deuil dan La Chambre claire, satu karya Barthes tentang fotografi yang diterbitkan di tahun 1980, yang ditulis di saat beliau berkabung atas kematian ibunya dan memfokuskan pada foto-foto masa kanak-kanak Henriette. Hampir selama dua tahun Barthes mencatat observasi-obvservasi emosi dan kesedihannya. Barthes menolak menggunakan kata “bereavement” seperti dijelaskan dalam catatan hariannya, karena “that’s too psychoanalytical. I am not bereaved. I am in pain.” Kesedihan Barthes tampaknya tidak berkurang seiring berjalannya waktu, seperti yang dituliskannya di bawah ini:

5 November

Sore yang sedih. Belanja sedikit. Di toko kue (pointlessness). Aku membeli satu kue almond. Sembari melayani pembeli, si pegawai perempuan berkata, “Voilà.” Satu kata yang selalu kuucapkan ketika aku membeli sesuatu untuk ibu saat aku menjaganya. Pernah sekali, menjelang akhir hayatnya, dalam keadaan tak sadar dia menirukan seruanku, “Voilà” (Aku di sini, satu ekspresi yang kami gunakan secara mutual sepanjang hidup). Ucapan pegawai ini menyebabkan aku meneteskan air mata. Aku menangis cukup lama (setelah aku kembali ke apartemenku yang sunyi).

19 November

(Pergantian status) Untuk beberapa bulan, aku adalah ibunya. Ini seolah-olah aku telah kehilangan putriku (Adakah kesengsaraan yang melebihi ini? Aku tak pernah merasakannya).

20 Maret

Mereka bilang (kata Nyonya Panzera) bahwa Waktu akan menyembuhkan kehilangan. Tidak, Waktu tidak menyebabkan apapun; ia hanya menghanyutkan emotivitas kehilangan.

29 Juli

(Menonton film Hitchcock Under Capricorn) Ingrid Bergman (dibuat sekitar tahun 1946). Aku tidak tahu kenapa, dan aku tak tahu bagaimana mengekspresikannya, tapi aktris ini, tubuh aktris ini, menggerakkan hatiku, menyentuh sesuatu yang mengingatkanku pada Ibu. Bunga anyelirnya, tangannya yang lembut dan natural, impresi yang menyejukkan, femininitas tanpa Narsisistiknya.

Rekoleksi-rekoleksi pribadi yang intim ini, juga lainnya, bukan hanya diterbitkan bulan lalu tapi juga dibacakan di atas panggung dalam rangkaian acara khusus di Théâtre National de l’Odéon, Paris, oleh direktur teator, aktor Olivier Py. Perayaan dan ekspos publik atas kesedihan pribadi ini membuat marah teman lama Barthes dan mantan editor Seuil, filsuf François Wahl, yang menyatakan pada Le Monde: “The publication of Journal de deuil would have positively revolted [Barthes] insofar as it violates his privacy.” Wahl juga tidak memberikan respons positif atas penerbitan Carnets du voyage en Chine (diterbitkan oleh Éditions Christian Bourgois), yang beliau deskripsikan sebagai “the epitome of an unwritten text, which in [Barthes's] eyes was a veritable taboo. He possessed absolute respect for writing and its innate logic.”

Carnets du voyage en Chine berisi catatan-catatan Barthes selama perjalanan 10 harinya di Cina di tahun 1974 bersama sekelompok grup literer, termasuk Philippe Sollers, Julia Kristeva, dan Wahl, dalam misi pencarian data. Bahan-bahan Carnets, seperti Journal de deuil, diambil dari sekumpulan arsip yang tidak pernah dipublikasikan dari l’Institut Mémoires de l’Édition Contemporaine di Normandia. Carnets du voyage en Chine memperjelas dan menghumanisasi respons Barthes yang diterbitkan setelah perjalanannya, Pourquoi la Chine? (Why China?, 1976). Barthes bosan dengan Cina, yang dalam buku barunya beliau sebut sebagai “sexual desert.” Dalam perjalanan melihat patung-patung Buddha di Longmen Grottoes, propinsi Henan, Barthes mencatat, “I won’t have seen the kiki of a single Chinese man. Whereas what do we know of a people if we don’t know its sexual organ?”

Wahl bukan satu-satunya kerabat Barthes yang tidak menyetujui publikasi-publikasi ini. Melalui pembicaraan via telpon, Richard Howard, penerjermah sekaligus teman Barthes, berkata: “I’m dubious about them. I don’t think Roland wanted anything about his mother to be published. The [Journal de deuil] is not necessary to be published.” Sebaliknya, Howard tidak keberatan atas penerbitan Carnets du voyage en Chine: “Whatever he wrote about China should be published,” mengingat sifat perjalannya yang publik dan historis, bagaimanapun membosankannya perjalanan itu menurut Barthes. Berbeda dengan Philippe Sollers, yang menulis di Le Nouvel Observateur bahwa Barthes menggunakan “bizarrely infantile word” seperti “kikis.” Sollers meragukan “whether Barthes, upon rereading himself years later, would have retained this dismayingly vulgar phrase as is.”

Sebaliknya, Eric Marty, editor Seuil, menyatakan di Le Nouvel Observateur bahwa publikasi buku-buku tersebut dilakukan atas persetujuan Michel Salzedo, kakak tiri sekaligus wali legal karya-karya Barthes. Menurut Marty, subjek kematian Henriette Barthes sama personalnya bagi Barthes maupun bagi Salzedo yang lahir di tahun 1927. Dia menceritakan pada harian Libération bahwa Barthes meninggalkan 330 index cards dengan catatan-catatan mengenai kematian ibunya, dari tanggal 26 Oktober 1977 sampai 15 September 1979, yang membentuk satu entitas otonom. “There is also a title, an act of naming,” tuturnya. “For me this is no mere effusion, it’s an authentic literary project.”

Marty dalam Le Monde juga menyatakan bahwa François Wahl berada dalam “in a very poor position to offer lessons. … Shortly after Barthes’s death, [Wahl] published Soirées de Paris, [Paris Evenings], an entirely more intimate text than the Journal de deuil or Carnets de Chine.” Howard mengkonfirmasi bahwa walaupun Wahl memang mempublikasikan Soirées de Paris – suatu pengakuan roman homoseksualnya – setelah kematian Barthes, Barthes memang menuliskan karya itu dengan intensi untuk diterbitkan, dan mendiskusikannya dalam basis tersebut dengan Wahl, Howard, dan teman-teman lainnya. Bahkan, sebenarnya Barthes berniat menerbitkan Soirées de Paris selagi ia masih hidup, tapi mengurungkannya karena takut menyinggung Salzedo.

Sedikit persengketaan, kurang lebih umum terjadi di kalangan penerbitan Prancis, mungkin melatar belakangi perdebatan hangat ini. Di tahun 1990, Wahl memutuskan untuk berhenti bekerja di penerbitan untuk berkonsentrasi menulis. Di tahun 2007 dia menyelesaikan karya monumentalnya, Le Perçu (What Is Perceived), yang ditolak diterbitkan oleh Éditions du Seuil dengan alasan terlalu panjang (825 halaman) dan terspesialisasi. Penolakan Seuil menyebabkan beberapa perselisihan; Alain Badiou dan Barbara Cassin, dua filsuf terkenal yang mengedit karya Wahl, L’ordre philosophique (Philosophical Hierarchy), mengundurkan diri sebagai protes. Badiou dan Cassin kemudian bekerja sebagai editor di penerbit Paris saingan, Fayard, yang kemudian segera menerbitkan Le Perçu.

Pada akhirnya, menurut Howard – yang melihat respons Wahl sebagai sesuatu yang wajar dari seorang teman yang sensitif dan protektif, perselisihan seperti ini tidaklah penting. “Wahl has been very defensive about Roland’s work from the beginning,” tuturnya. Seperti yang Wahl jelaskan pada Libération, Barthes memintanya setelah kematian Henrietta untuk “take on everything that would be published after [Barthes's] death. ‘You will prevent any missteps.’ Then he added, however: ‘I cannot write that down, so as not to offend Michel [Salzedo].’” Setelah kematian Barthes, Wahl berkonsultasi dengan Salzedo, yang menyetujui publikasi beberapa teks tapi tidak untuk yang lain. Mereka semua terhantui dengan bagaimana publikasi karya-karya ini akan mempengaruhi image dan reputasi Barthes.

Beberapa krtitikus menanggapi karya-karya baru ini sebagai inferior dari pada karya-karya lama Barthes. Maurice Nadeau menulis dalam La Quinzaine littéraire: “Jottings are not quite the same as writing. We can only imagine what [the finished work] would have been.” Lebih parah lagi, dalam blog Libération, kritikus Raphaël Sorin menunjukkan banalitas-banalitas Carnets du voyage en Chine, di mana Barthes mencatat komentar-komentar seperti, “Forgot to wash my ears” and “8pm. Arrived Nanking. It’s cold.” Sorin dengan tajam membandingkan Carnets du voyage en Chine dengan parodi yang bersirkulasi di Paris tiga dekade lalu, Le Roland-Barthes sans peine (Roland Barthes Made Easy).

Namun bagaimanapun juga, banyak pembaca di seluruh dunia yang akan tetap menyambut dua tambahan dalam warisan bibliografi Barthes. Seperti yang Howard katakan: “Private matters should be published when you have a writer of [Barthes's] importance, and I would translate the China journal. If the Journal de deuil has real merit as writing, I would translate it, too, keeping in mind that he did not write it for publication. Of course, if I do not translate it, I’m sure someone else will.”

Benjamin Ivry penulis biografi Rimbaud, Ravel, dan Poulenc, dan telah menerjermahkan berbagai buku bahasa Prancis, termasuk karya-kayra Gide, Verne, dan Balthus.

Diterjermahkan dari:

Ivry, Benjamin, “The Private Barthes”, The Chronicle Review, Vol. 55, Issue 28, Page B14

http://chronicle.com/temp/reprint.php?id=q3nn8qtbvfjpcjpf8j2zvzmjphvbssmj [on-line 20 Maret 2009]

Bagi & Nikmati / Share & Enjoy!
  • Print
  • email
  • PDF
  • Add to favorites
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • del.icio.us
  • Digg
  • BlinkList
  • Reddit
  • Technorati
  • Tumblr

Categories: Artikel. Tags: ,

About c2o library: Located at the heart of Surabaya, C2O is a small library with more than 4000 books and 900 arthouse & classic films that encourages dynamic learning and activities.
Email this author | Visit author's website | All posts by c2o library

Responses

  1. anitha silvia says:

    VOILA! wah gw mah percaya setiap tulisan ingin dibaca dan bakal dibaca!

    March 26, 2009 at 01:12

Leave a Response

About us

Perpustakaan kecil di Surabaya, Indonesia, dengan koleksi sekitar 4000 buku dan film bermutu dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Lebih jauh, silahkan baca tentang kami dan informasi keanggotaan, baca ulasan dan rekomendasi dari koleksi kami, lihat informasi acara & program, dan akses katalog koleksi kami.

C2O library . cinémathèque . café
Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya 60264
Indonesia (peta)
E c2o.library@yahoo.com
Senin, Rabu-Jumat 10.00-19.00
Sabtu-MInggu 11.00-20.00
Selasa tutup

Article submissions

C2O menerima artikel/ ulasan yang berhubungan dengan kegiatan dan koleksi (buku/ film/ musik) kami. Info lengkapnya »

This February: Cergamboree 2010

Cergamboree 2010

Buku
Indonesian Cinema
Indonesian Cinema

Dengan pendekatan institusional-tekstual itu, Krisna Sen berambisi untuk keluar dari berbagai teori film yang ada: mulai dari teori film Barat, teori film Dunia Ketiga hingga apa yang ia sebut “pendekatan Asianis”.

Jan 17, 2010 | 5 Comments »

More in Buku
Komik
Laika
Laika

Gramedia | November 2008 | in Indonesian | General Audience | 208pp

The story of the abandoned pooch who became the first animal space traveller.

Feb 17, 2009 | 2 Comments »

More in Komik
Musik
Ragas & Sagas
Ragas & Sagas

with Ustad Ali Khan | ECM 1990

Jul 8, 2009 | Discuss »

More in Musik
Film
Control
Control

2007 | UK / USA | 119m | B&W | in English with English subs

Biopik hitam putih mengenai Ian Curtis, vokalis utama band Joy Division.

Nov 12, 2009 | Discuss »

More in Film
Acara
Comic(s) on Films
Comic(s) on Films

[ February 6, 2010; 5:00 pm to 8:00 pm. February 13, 2010; 5:00 pm to 8:00 pm. February 27, 2010; 5:00 pm to 8:00 pm. ] Pemutaran film-film dengan tema komik: dokumenter mengenai sejarah komik di Amerika (Comic Book Confidential), serial pendek yang diputar di saluran TV internet, IFC (The Unclothed Man in the 35th Century A.D.), dan adaptasi dari manga Osamu Tezuka dan film bisu Jerman (Metropolis).

Jan 31, 2010 | Discuss »

More in Acara

Email subscription

Archives

Event Calendar

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031EC

Upcoming Events

  • No events.