Visual Methodologies | Gillian Rose, 2001
Posted June 22, 2009 by c2o library | 2 Comments
An Introduction to the Interpretation of Visual Materials | English | Sage | 304p
Sesuai dengan namanya, buku ini memaparkan beragam teori dan metodologi analisa materi visual dan kaitannya dengan budaya sekitarnya. Dengan sistematis dan konstruktif Rose menganalisa berbagai kerangka teoritis serta metodologi relevan yang menyediakan bagaimana, kenapa dan kapan kita dapat menggunakan teknologi visual untuk mendukung penelitian, atau bahkan menjadi bagian utama dari penelitian itu sendiri. Di sini ditekankan ubiquity budaya visual, mulai dari meledaknya di era modernisme sampai peregangannya dalam posmodernisme.
Dalam kaitannya dengan kebudayaan, ditekankan lima aspek: 1) Gambar memiliki resistensi dan efek khusus yang menghindari artikulasi (contohnya punctum (Barthes 1981), kecenderungan gambar untuk didampingi informasi (teks) lainnya [Barthes 1977: 25-27]); 2) Gambar dapat menciptakan, mengukuhkan, melemahkan, bahkan menghancurkan, relasi dan perbedaan sosial; 3) Gambar mempunyai hubunan yang dinamis dengan penontonnya—bagaimana gambar dilihat tidak hanya tergantung pada gambar itu sendiri tapi juga mengundang cara pandang tersendiri (Berger 1972); 4) Gambar berkaitan dengan konteks dan lokasi dengan praktik dan peraturan yang berbeda-beda; 5) Sebagaimana gambar mempunyai resistensi, begitu pula penonton memiliki respons yang berbeda-beda. Menurut Rose, aspek ke-5 ini biasanya sering terlantarkan, dan umumnya studi resepsi atau audiencing meneliti kaitannya dengan media massa, terutama TV (Ang 1985, 1991; Walkerdine 1990), sementara studi resepsi fotografi atau setting museum/galeri masih jarang dilakukan (meski semenjak buku ini diterbitkan, sepertinya mulai muncul banyak penelitian tersebut).
Yang menarik dari yang ditawarkan Rose adalah caranya menganalisa gambar yang kritis dan penekanannya pada refleksifitas. Menurutnya, analisa gambar perlu dilakukan pada tiga situs (’sites‘), yaitu: 1) situs produksi gambar, 2) situs gambar itu sendiri, dan 3) situs penonton. (Pendapat ini umumnya juga diutarakan berbagai peneliti visual, seperti misal Banks (2001); Barthes (1981) dengan operator-spectrum-spectatornya; Pink (2006)). Sementara untuk menganalisanya, perlu diperhatikan tiga aspek (‘modalities’): 1) komposisionalitas, 2) teknologi, dan 3) sosial.
Dengan membedah materi visual dan menempatkannya dalam kerangka di atas, Rose kemudian memaparkan berbagai metodologi dalam tiap babnya: 1) interpretasi komposisional, 2) analisis isi, 3) semiologi, 4) psikoanalisis, 5) analisa diskursus (yang dibagi menjadi dua, sehubungan dengan: a) teks, intertekstualitas dan konteks; b) institusi dan cara pandang), 6) audiencing, dan juga penggunaan beragam metode. Tiap bab umumnya juga menganalisa studi kasus, diakhiri dengan rangkuman, beserta kekuatan dan kelemahan tiap metodologi.
Buku ini menawarkan rangkuman praktis berbagai teori visual sekaligus memberi gambaran mengenai perdebatan dan perkembangan dalam disiplinnya. Kelemahannya mungkin kurangnya pemaparan aplikatif dan isu etikal. Terlepas dari itu, buku ini merupakan salah satu buku pengenalan panduan teori penelitian visual yang paling komprehensif.
About c2o library: Located at the heart of Surabaya, C2O is a small library with more than 4000 books and 900 arthouse & classic films that encourages dynamic learning and activities.
Email this author | Visit author's website | All posts by c2o library







wah acaranya pasti menarik tuh jeng pengen banget datang ki… dan pengen lama di sono liat koleksi perpsutakaanmu… salam buat semua yaaa…
June 22, 2009 at 23:55
Kedatanganmu selalu dinanti dengan arak dan kopi item anget Klas, kapanpun
June 23, 2009 at 13:15